Arti Penting Sukses
ukses
hanyalah sebuah kata, namun memiliki makna beragam. Tiap orang berhak
mengungkapkan jalan suksesnya sesuai kehidupannya. Karena sukses adalah pilihan
hidup. Tak ada yang berhak menganturnya.
Kesuksesan
tiap orang berbeda. Sangat tidak etis membandingkan contoh kesuksesan dari dua
orang. Karena kesuksesan tidak pernah sama, sekalipun pada orang kembar. Karena manusia tidak ada yang sama. Begitupun
jalan hidup manusia tidak pernah ada yang sama persis. Oleh karena itu, kesuksesan
tidak dapat digeneralisasikan.
Setiap
manusia pasti menginginkan hidup sukses. Namun sedikit diantara mereka yang mau
belajar konsisten menggunakan cara-cara sukses meraih kesuksesan. Karena sukses
diraih dengan perjuangan, bukan warisan.
Kunci
utama menuju sukses adalah belajar. Kita manusia merupakan manusia pembelajar
yang tak pernah selesai kecuali mati menghampiri. Karena belajar tidak hanya di
bangku sekolah, tidak melulu mendapatkan ijazah dan gelar. Namun sesungguhnya
ialah perubahan terus-menerus memperbaiki kehidupan.
Orang-orang
besar lebih dulu mendapatkan kesuksesan membeberkan nasihat bijaknya. Winston
Churchill mengatakan, “Success is going from failure to failure without losing
enthusiasm.” (Sukses adalah kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan
antusiasme).
Deepak
Chopra: “Success in life could be defined as the continued expansion of
happiness and the progressive realization of worthy goals.” (Sukses dalam hidup
adalah ekspansi kebahagiaan yang berkelanjutan dan realisasi progresif dari
tujuan yang layak). Karena kita pasti mendambakan kebahagiaan hidup .
Pendapat
Jim Rohn: “Success is doing ordinary things extraordinarily well.” (Sukses
adalah melakukan hal-hal biasa secara luar biasa). Namun sedikit orang
menyadarinya. Bahwa sukses dimulai dari cara-cara kecil.
Anita
Roddick: “I want to define success by redefining
it. For me it isn’t that solely mythical definition – glamour, allure, power of
wealth, and the privilege from care. Any definition of success should be
personal because it’s so transitory. It’s about shaping my own destiny.” (Saya
ingin mendefinisikan ulang kesuksesan. Bagi saya sukses adalah bukan
semata-mata glamour, daya tarik, kekuatan kekayaan, dan hak istimewa. Setiap
definisi sukses harus bersifat personal. Sukses adalah tentang membentuk nasib
seseorang)
Richard
Branson: “It is the satisfaction of doing it for yourself and motivating others
to work with you in bringing it about. It is about the fun, innovation,
creativity with the rewards being far greater than purely financial.” (Sukses
adalah kepuasan melakukan sesuatu untuk diri sendiri dan dapat memotivasi orang
lain untuk bekerja sama dengan Anda untuk merealisasikan kesuksesan tersebut.
Sukses adalah tentang kesenangan, inovasi, kreativitas dimana penghargaan hal
tersebut jauh lebih besar nilainya daripada uang)
Orison
Swett Marden: “When a man feels throbbing within him the power to do what he
undertakes as well as it can possibly be done, this is happiness, this is
success.” (Ketika seseorang merasakan denyut kekuatan dalam dirinya untuk
melakukan apa yang dia mampu lakukan sama seperti apa yang mungkin bisa ia
lakukan, ini adalah kebahagiaan, ini adalah sukses)
Zig
Ziglar: “Success means doing the best we can with what we have. Success is the
doing, not the getting; in the trying, not the triumph. Success is a personal
standard, reaching for the highest that is in us, becoming all that we can be.”
(Sukses adalah melakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan dengan apa
yang kita miliki. Sukses adalah melakukan, tidak mendapatkan; sukses adalah
usaha, bukan kemenangan. Sukses adalah standar pribadi, meraih yang tertinggi
yang ada didalam diri kita, menjadi semua yang kita bias)
George
Sheehan: “Success means having the courage, the determination, and the will to
become the person you believe you were meant to be.” (Sukses adalah memiliki
keberanian, tekad, dan kemauan untuk menjadi orang yang percaya bahwa Anda ditakdirkan
untuk menjadi sukses)
Ralph
Waldo Emerson: “Success: To laugh
often and much, to win the respect of intelligent people and the affection of
children, to earn the appreciation of honest critics and endure the betrayal of
false friends, to appreciate beauty, to find the best in others, to leave the
world a bit better, whether by a healthy child, a garden patch, or a redeemed
social condition; to know even one life has breathed easier because you have
lived. This is to have succeeded!” (Sukses adalah : tertawa sering dan
banyak, memenangkan rasa hormat dari orang-orang cerdas dan rasa kasih sayang
kepada anak-anak, mendapatkan apresiasi dari kritikan yang jujur dan bertahan
terhadap pengkhianatan teman-teman palsu, menghargai keindahan, menemukan yang
terbaik dalam diri orang lain, meninggalkan dunia sedikit lebih baik, baik itu
adalah dengan anak yang sehat, sepetak kebun, atau kontribusi terhadap kondisi
sosial; mengetahui bahwa walaupun itu satu orang menghembuskan nafas lebih lega
karena Anda hidup. Inilah kesuksesan)
Wilfred
Peterson: “Success is focusing the full power of all you are on what you have a
burning desire to achieve.” (Sukses adalah memfokuskan dengan kekuatan penuh
semua yang kita miliki, sebuah keinginan yang membara untuk meraih pencapaian)
Suksesitubebas.com:
“Sukses adalah melakukan apa yang kita cintai dan mencintai apa yang kita
lakukan. Dimana kita dikelilingi orang-orang yang kita cintai dan kita dihargai
sesuai penghargaan yang kita inginkan.”
Sukses
adalah saya dan Anda, kita semua.
xxx
Lahir ke dunia ini adalah sebuah
kesuksesan. Bayi-bayi mungil nan lemah membutuhkan perjuangan demi keluar dari
rahim ibu. Tentu saat itu kita belum menyadarinya. Dari orang tua kita bisa
menanyakan betapa sulitnya menghadirkan diri kita. Maka bersyukur telah hiup
adalah kewajiban.
Walaupun sedikit yang diingat, kita
pastilah pernah tertatih-tatih belajar berjalan dengan dua kaki kita. Tak
peduli berapa kali terjatuh, sakit lalu bangun dan melanjutkan usaha hingga
mahir berjalan seperti sekarang ini.
Kita telah melewati masa-masa
menguji coba seluruh bagian tubuh kita. Menghubungkan dunia luar yang besar
kepada diri kita lewat sentuhan, penciuman, perabaan, penglihatan dan
pendengaran. Betapa indahnya dunia ini bila kita memiliki kelengkapan
seharusnya.
Kita pun mengenal ada kehidupan lain
di luar diri kita. Kita termasuk dalam kehidupan mereka. Kita hidup bersama
dengan perbedaan yang jelas tak harus diributkan.
Kesempatan hidup adalah hal yang
sangat berharga.
xxx
Masa Sekolah Dasar
Banyak
hal istimewa tanpa disadari akan memori saat bersekolah di tingkatan dasar
wajib belajar sembilan tahun ini. Begitu yakin, kurun itulah tonggak kunci
penentu kehidupan berikutnya. Setidaknya ahli pendidikan masa kini menyebutnya
masa emas, usia 0 hingga 8 tahun (usia anak SD masuk ke dalamnya). Pendidikan
berpengaruh besar pada siswa yakni pondasi awal kehidupannya, perkembangan
neuron otak paling pesat dibanding tahapan kehidupan lain.
Kala
itu, pertama dalam hidup memiliki teman berseragam sama warnanya seperti
bendera bangsa. Kesibukan serupa dalam ruangan tembok tinggi warna sendu dan
jendela-jendela sempit. Debu-debu kerap mengganggu indera penciuman. Suara
bising penanda aktivitas maupun hasil pembelajaran dengan seorang dewasa, guru.
Tiada
yang benar-benar sama di sana. Kita semua sedang berego tinggi untuk
mengukuhkan kehebatan dalam tubuh kecil senantiasa bertumbuh. Diawali dengan
terbata-bata mengenali kode-kode bernama huruf, lantas menjadi kata, kalimat.
Dan rangkaian huruf sejatinya memiliki arti potensial, meskipun tanpa malu
menguasai membacanya saja di tingkat 4. Bukan masalah sebenarnys. Lebih penting
menapaki secara utuh ketimbang berjalan dalam kerapuhan setiap saat bisa
kehilangan maupun rusak.
Kemudian
tentang nama, terbuat dari rangkaian huruf tersimpan rangkaian doa. Selalu ada
cerita dari sejumlah yang diterakan pada mereka, teman sepanjang enam tahun.
Lika-liku hematnya, terpaksa menyimpulkan pemahaman sepintas si pembawa nama
beserta tingkah mereka tatkala tak lagi bersama.
Mereka,
teman satu kelas SD, seolah menjadi duplikat siapa orang tuanya. Tentang
bagaimana tabiat peniruannya, dan suara-suara mencoba menerjemahkan hasil
pemikiran sendiri akan nama-nama yang lekat karena kehebatannya, atau dianggap
lalu lantaran ke-biasa saja-annya.
Di
tingkat 6, namaku mulai menyamai ketenaran juara kelas bertahan. Mungkin
keberuntungan sedang menyapa lewat pemindahan posisi duduk di depan. Menjadi
deretan siswa yang mendapat porsi menyimak lebih besar. Sudah seharusnya
memang. Bahkan sejak awal, idealnya mendapatkan hak begini karena, inilah
kebutuhan perorangan yang tak bisa diindahkan jika memang ada yang mau
mengerti.
Untuk
memahami mengapa siswa kurang berprestasi? Serta merta mengecapnya lambat berpikir?!
Tetapi tak ada yang bertanya dulu, apakah bisa melihat? Apakah bisa mendengar?
Pembelajaran mengandalkan tulisan di papan tulis dan ceramah sementara gaduh
riuh si tukang heboh merugikan mereka yang pendengaran dan penglihatannya
lemah. Ada berapa orang wali kelas sampai begitu detailnya ingin mencari tahu
kondisi muridnya sendiri secara lengkap? Sepele.
Lagi,
ketika ada kegiatan lomba hasta karya. Dua kandidat sudah dikenal jago
menggambar. Dipastikan mereka berdua mendapat tugas tersebut, dan benar
kenyataannya. Berdua mereka sibuk menggoreskan suatu bentuk berwujud dua
dimensi beraneka warna di atas kertas putih. Sementara aku hanya bisa
mengamatinya di satu sudut kelas, sesekali mencoba mengusik mencoba membantu
atau hanya sekedar mengomentari dengan kata sederhana. Yang sebenarnya
mengharap sang wali kelas bersimpati mau mencoba kemampuanku juga layak seperti
mereka. Sayangnya, tidak begitu. Beliau tak pernah mau melihatku lebih,
meskipun berkali-kali, berlembar-lembar
gambar kubuat, namun tak sampai dinikmatinya. Aku tak diberi kesempatan sekali
itu. Menghibur diri sendiri, ya sudahlah, hitung-hitung enggan mendepak
keberuntungan teman sendiri. Suatu hal yang beliau akan sadari setelah 12
tahun.
Terkadang,
terpaksa mengalah cukup menyudutkan pandangan kita yang selama ini berkembang
saling berpaut.
xxx
Ganti
sekolah, ganti seragam, ganti teman, dan ganti cerita kehidupan, itulah alur menuju
remaja.
SMP,
pertama rasanya mengenal suka dengan kakak kelas di kantin sekolah. Diam
tersipu, tak mampu mengungkapkan kata. Mungkin terlalu malu, bisa juga
menganggap belum pantas. Segala daya upaya dikerahkan agar lebih dekat
mengenalnya. Apa daya, keberuntungan satu-satunya harapan. Pada akhirnya tak
satu pun kata terucap manis untuknya. Tak menyesal.
Sementara
masih syok akibat kegagalan masuk
sekolah favorit dimana saudara berada, seolah-olah dari situ menjadi momok
untuk terus mencemooh. Suara-suara celaan dan tindakan dominasi demi menobatkan
kebenaran menjauhiku. Mulai merasakan guncangan tidak kasatmata dalam tubuhku,
terutama jantungku. Gemuruh tanpa nama.
Nihil
tempat bertanya, apalagi sekedar berbagi cerita. Telinga-telinga yang
seharusnya mendengar justru tertutup rapat, sibuk menyalahkan dan memerintah
melampaui kekuasaannya. Semua atas dasar perintah!
Kemana
mencari tempat berlindung? Bagaimana akan bertahan? Selamanya kan mencari
jawab.
Selingan
tentu ada. Menemukan teman-teman seperjuangan adalah obat penawar. Mereka yang
berperangai baik meski tidak terkenal, bersahaja dalam kesederhanaan. Rela menempati
golongan belakang, sudah cukup menciptakan indah kebersamaan mengarungi
biru-putih.
Lalu
siapa yang terkenal?
Syaratnya
cantik dan mampu menarik perhatian orang. Dengan begitu ada keuntungan
tersendiri bila cocok dengan sosok penting seperti halnya memperbaiki nilai
rapor, atau tumpangan promosi gratis sampai rumah, sementara yang lain berjalan
kaki atau naik sepeda. Menurutku konyol mengikuti cara itu, meskipun tetap saja
menginginkan.
Ingat,
bagaimana hendak berhasil apabila berat badan cenderung naik? Mi instan
nampaknya jadi menu baru disamping camilan klimis lebih menenangkan kegundahan.
Menangkal serangan verbal destruktif, entah rupaku mirip penampung sampah!
Pembentukan
konsep diri berjalan adanya, lengang. Kepercayaan menghilang pelan. Hal yang
harus dibayar mahal oleh pembiasaan terus-menerus remeh temeh arti kata dari
mulut manusia.
Katakanlah
yang baik, atau diam. Siapa yang lupa? Kebanyakan mengabaikannya. Lebih mudah
menghujat kejelekan orang lain dibanding diri sendiri, bukan? Perkataan
negatif, jangankan makhluk hidup. Air saja akan berubah sifatnya setelah
dikatai secara intens. Lalu dengan makhluk hidup, manusia? Biar bagaimanapun
namanya bullying.
Mungkin
maksudnya bukan begitu. Kekurangan pengetahuan atau keliru memahami. Apapun
namanya, lebih penting mempertahankan warisan melegitimasi partiarkisme. Karena
Tuhan tidak berada di ‘arsy, akan
tetapi bertahta dalam benak dan perkataannya, membenarkan semua keputusannya. perintahnya
tidak pernah salah, dan jika terjadi kesalahan maka kembali ke pasal
sebelumnya. Itulah aturannya.
Anggap
saja sedang tidak beruntung. Terlahir ke dunia ini adalah sebuah anugerah.
Sebaliknya yaitu bencana bila tak sesuai ekspetasi. Siapa menginginkan, siapa
menolak.
Sebentuk
pemahaman mulai menjurus seiring langkah menapaki waktu yang terus bergulir. Jalan
tanpa pagar menuntun arah mana. Pelindung-pelindung menghilang melegakan
terpaan terjal. Menanti seperti apa ujungnya. Perumpamaan sulit. Hidup tidaklah
untuk mengiaskan peristiwa dengan sebaris kesimpulan. Tapi mendiskusikan
peristiwa lalu juga pertanda orang sukses jika mau mengambil hikmahnya.
Tidak
ada prestasi di sini. Kalau mau dikata, sekali pernah membuat bingung guru
Mapel Mulok menemukan inisialku sebagai penggambar rangkaian janur terbaik
melebihi predikat penggambar biasanya. Beliau tidak berhasil bahkan setelah
memeriksa buku catatan seisi kelas. Dan aku enggan mengaku. Dalam hati justru
merasa puas menyimpan ini untuk suatu masa nanti.
Menanti
hari-hari pengumuman penting sungguh mendebarkan. Keputusan untuk menjelaskan
seperti apakah diriku selama tiga tahun dalam angka dan tulisan. Yang jelas aku
sudah berusaha mengerahkan kemampuanku mendapatkan hasil terbaik. Semuanya
kupasrahkan saja kepada Tuhan.
Meski
tidak memuaskan, tidak pula mengecewakan, lulus adalah kesimpulannya sehingga
aku bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Berarti juga berpisah dari dia
yang pertama membuatku jatuh cinta.
Kadang
merasa takdir kurang adil. Dia yang berprestai dan berlaku baik tapi miskin. Menjadi
anak angkat Bapak penjaga sekolah mungkin hadiah terbesarnya. Mau tak mau
mengikuti jalan orang tuanya di sana. Belajar menjadi orang sesungguhnya di
usia dini. Waktu seakan terlalu gegabah menyimpulkan masa depannya.
xxx
Tak
terasa, warna seragam berubah menjadi abu-abu putih. Beberapa orang tua
mengatakan, inilah masa-masa sangat indah. Berharap ini adalah pintu baru
menuju perubahan baik. Mengatasi pertanyaan lalu yang belum selesai.
Diterima
di SMA biasa, bukan unggulan, bukan pula yang terjelek. Setidaknya masih mampu
berbangga diri pernah belajar di sana karena siapa tahu almamaternya suatu saat
terdongkrak.
Bertambah
teman baru, bercampur kawan lama dari sebelumnya melalui proses panjang. Ada
pula yang hilang. Sebuah transisi. Perubahan wajar yang seharusnya terjadi.
Kupikir
sama saja keadaannya, pembelajaran seperti seharusnya. Tak pernah menjumpai
guru besar yang menghebatkan muridnya. Atau aku saja yang terlalu menuntut?
Belum
sirna perasaan minder lantaran tungganganku hanya sebuah onthel, dan kebanyakan
mereka lebih maju dengan motornya sehingga bisa berkelana lebih jauh atau
sekedar pamer belaka. Sejujurnya tidak di situ akarnya.
Menggabungkan
diri dalam ekstrakurikuler remaja rohis kuharapkan meredam keguncangan dalam
hati ini. Kedamaian yang dijanjikan tak mungkin berdiri sendiri. Bergulat
dengan romantika remaja menuju dewasa. Apa saja bisa terjadi, dan belum tentu
benar.
Seorang
senior kelas yang dikenal mumpuni kepiawaian serta ratingnya pun dengan mudahnya menggunakan taktik keruh untuk
membenarkan tujuan idealisme. Pencapaian yang harusnya dieksplisitkan lagi
sesuai kondisi, tidak mentah-mentah mengunduhnya.
Bukan
hal baru mendapati realita mencengangkan. Dirinya juga manusia, bisa salah dan
keliru. Namun gerak-geriknya mencerminkan identitas sesungguhnya. Inilah
misteri manusia.
---
Hal
pahit ketika anak baru yang menjadi teman sebangku mengalami kecelakaan
terserempet kereta saat berangkat sekolah memboncengkan teman. Itu adalah hari
ke empat pelaksanaan ujian tengah semester 2 di kelas 2. Suasana pagi berubah
muram mengiringi seantero kelas.
Kuharap
hanya sementara dia terbaring kritis di sana. Setelah dua minggu rupanya Tuhan
lebih memilih mengambilnya dari kebersamaan kami ke kehidupan abadi. Kehilangan
sungguh menyakitkan. Tapi ada yang membuatku sangat marah. Mulut-mulut
penggosip yang entah dari mana mendapatkan kabarnya, mengekspresikan tertawa
terbahak membawa isu kematiannya. Seolah mortalitas orang lain sebagai hiburan
diantara kehidupan susah.
Hari
terus berlanjut. Rangkingku turun teratur dari sepuluh besar. Terlalu banyak
beban kutahan sendiri. Berlagak baik-baik saja di hadapan orang. Ingin sekali
menemukan seseorang yang mau mendengarkan keluh-kesahku secara bijak.
Guru
Wali Kelas 3 berkarakter ke-bapak-an, sosoknya kerap menyentilku akan kerinduan
pada seorang ayah. Mungkin beliaulah sang pengganti, meski cuma di sekolah. Tak
bisa berharap banyak sebab beliau sudah repot dengan urusannya sendiri. Tak
kesampaian mengusahakannya sebagai pembimbing.
Dan
ternyata putrinya juga bersekolah sama denganku, adik kelasku. Sering bertemu
di kegiatan rohis. Aku pun mengaguminya. Tapi jika yang kudengar adalah
ceritanya berakrab ria dengan ayahnya, aku harus menguatkan diri menahan air
mataku. Aku iri dengan kehangatan mereka. Lebih baik menjauh saja.
Mungkin
hanya ketidakberuntungan belaka. Jalan hidup tiap orang berbeda. Aku pun selalu
menerima apa yang diberikan saat ini, kuartikan sebagai yang terbaik.
xxx
Di
bangku kuliah, kita siap mengepakkan sayap menjadi manusia dewasa. Dari sini
kita menentukan arah bagaimana baiknya menjadi manusia sebenarnya. Manusia yang
bermanfaat bagi orang lain, itulah hakikatnya.
Diterima
di PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) sebenarnya apa hebatnya? Lebih
menantang bila yang kujalani adalah Jurusan Teknik Mesin atau Arsitektur.
Julukan yang namanya saja sukah membuat rasa bangga. Lantas apaistimewanya
menjadi calon guru?
Konon
katanya guru adalah pahlawan. Mereka bekerja mulia tanpa penghargaan. Tapi
untuk jaman sekarang ini apa bisa?
Dunia
terus berubah. Definisi, konsep, hukum juga bisa berubah. Jaman tidak akan
kembali melainkan berputar menyerupai seberkas yang lalu.
Kuncinya
adalah berubah!
KUNCI
DAN SUKSES
Tentu
saja pemahamanku akan berubah jika saja siapa yang memaksaku kuliah di sini
mengertikan keadaanku, dan memberikan dukungannya mengatasi keterbatasanku yang
sangat menghambat.
Kekurangan
penglihatan dan pendengaran sangat menyita kualitas kegiatan perkuliahan. Jika
saja tidak kukembangkan daya spontanitas menggambarkan ilmu yang seharusnya
ada.
Tapi
aku masih diam saja. Menunggu hingga mereka menyadari kesalahannya semakin
fatal dan mau sedikit bersusah turut membangun impian bersama.
---
Pada
akhirnya, diri kitalah yang harusnya pertama berubah. Tuhan tidak akan menolong
suatu kaum sehingga kaum tersebut menolongnya sendiri. Memang logis. Bagaimana
Tuhan akan mengabulkan permintaah hamba-Nya jika tidak memantaskan diri
menerimanya?
Selanjutnya
adalah bagaimana caranya untuk memantaskan diri mendapat anugerah besar, yakni
jalan sukses yang tiap orang cita-citakan.
Apapun
keadannya, berubah adalah jalan keluar. Pertama dari diri sendiri memperbarui
mindset. Bahwa kesuksesan bukanlah tujuan, melainkan jalan. Sukses adalah hak
setiap orang. Sukses bukanlah hal yang bisa diwariskan, karena sukses harus
didapatkan dengan perjuangan keras dan doa. Bahwa untuk sukses kita tidak
sendiri.
Kedua
adalah mulai melakukan tindakan dengan sukses. Sekalinya tak ada tindakan besar
tanpa tindakan kecil. Maka orang bijak macam Tung Desem Waringin mengatakan
sukses adalah rangkaian tindakan kecil yang dijalani dengan cara terbaik.
Ketiga
adalah berdoa, memohon dan memasrakhan pada Yang Kuasa memberkahi segala upaya
yang kita lakukan semoga sesuai fitrah-Nya.
Namun
hal kecil yang sering terlupa adalah bahwa sukses juga terbentuk dari usaha
kita membantu orang lain. Meringankan penderitaan orang lain adalah perwujudan
saling mencintai, mengasihi, berguna sesuai harapan bangsa.
Wassalam.
Yogyakarta,
27 Desember 2013