Senin, 28 April 2014

Jantungku Bergemuruh

Sudah lama hal seperti ini kualami.
Rasa gundah cemas seakan dalam diri ada gemuruh yang memaksa keluar
Membuat telingaku hanya mendengarkan
Suara-suara guruh
Terkadang menggema

Aku tak tahu apa namanya
Mungkin serangan panik
Atau lainnya

Minggu, 29 Desember 2013

Belajar Dari Kesalahan Sendiri



Arti Penting Sukses
S
ukses hanyalah sebuah kata, namun memiliki makna beragam. Tiap orang berhak mengungkapkan jalan suksesnya sesuai kehidupannya. Karena sukses adalah pilihan hidup. Tak ada yang berhak menganturnya.
Kesuksesan tiap orang berbeda. Sangat tidak etis membandingkan contoh kesuksesan dari dua orang. Karena kesuksesan tidak pernah sama, sekalipun pada orang kembar.  Karena manusia tidak ada yang sama. Begitupun jalan hidup manusia tidak pernah ada yang sama persis. Oleh karena itu, kesuksesan tidak dapat digeneralisasikan.

Setiap manusia pasti menginginkan hidup sukses. Namun sedikit diantara mereka yang mau belajar konsisten menggunakan cara-cara sukses meraih kesuksesan. Karena sukses diraih dengan perjuangan, bukan warisan.
Kunci utama menuju sukses adalah belajar. Kita manusia merupakan manusia pembelajar yang tak pernah selesai kecuali mati menghampiri. Karena belajar tidak hanya di bangku sekolah, tidak melulu mendapatkan ijazah dan gelar. Namun sesungguhnya ialah perubahan terus-menerus memperbaiki kehidupan.
Orang-orang besar lebih dulu mendapatkan kesuksesan membeberkan nasihat bijaknya. Winston Churchill mengatakan, “Success is going from failure to failure without losing enthusiasm.” (Sukses adalah kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan antusiasme).
Deepak Chopra: “Success in life could be defined as the continued expansion of happiness and the progressive realization of worthy goals.” (Sukses dalam hidup adalah ekspansi kebahagiaan yang berkelanjutan dan realisasi progresif dari tujuan yang layak). Karena kita pasti mendambakan kebahagiaan hidup .
Pendapat Jim Rohn: “Success is doing ordinary things extraordinarily well.” (Sukses adalah melakukan hal-hal biasa secara luar biasa). Namun sedikit orang menyadarinya. Bahwa sukses dimulai dari cara-cara kecil.
Anita   Roddick: “I want to define success by redefining it. For me it isn’t that solely mythical definition – glamour, allure, power of wealth, and the privilege from care. Any definition of success should be personal because it’s so transitory. It’s about shaping my own destiny.” (Saya ingin mendefinisikan ulang kesuksesan. Bagi saya sukses adalah bukan semata-mata glamour, daya tarik, kekuatan kekayaan, dan hak istimewa. Setiap definisi sukses harus bersifat personal. Sukses adalah tentang membentuk nasib seseorang)
Richard Branson: “It is the satisfaction of doing it for yourself and motivating others to work with you in bringing it about. It is about the fun, innovation, creativity with the rewards being far greater than purely financial.” (Sukses adalah kepuasan melakukan sesuatu untuk diri sendiri dan dapat memotivasi orang lain untuk bekerja sama dengan Anda untuk merealisasikan kesuksesan tersebut. Sukses adalah tentang kesenangan, inovasi, kreativitas dimana penghargaan hal tersebut jauh lebih besar nilainya daripada uang)
Orison Swett Marden: “When a man feels throbbing within him the power to do what he undertakes as well as it can possibly be done, this is happiness, this is success.” (Ketika seseorang merasakan denyut kekuatan dalam dirinya untuk melakukan apa yang dia mampu lakukan sama seperti apa yang mungkin bisa ia lakukan, ini adalah kebahagiaan, ini adalah sukses)
Zig Ziglar: “Success means doing the best we can with what we have. Success is the doing, not the getting; in the trying, not the triumph. Success is a personal standard, reaching for the highest that is in us, becoming all that we can be.” (Sukses adalah melakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki. Sukses adalah melakukan, tidak mendapatkan; sukses adalah usaha, bukan kemenangan. Sukses adalah standar pribadi, meraih yang tertinggi yang ada didalam diri kita, menjadi semua yang kita bias)
George Sheehan: “Success means having the courage, the determination, and the will to become the person you believe you were meant to be.” (Sukses adalah memiliki keberanian, tekad, dan kemauan untuk menjadi orang yang percaya bahwa Anda ditakdirkan untuk menjadi sukses)
Ralph Waldo Emerson:  “Success:  To laugh often and much, to win the respect of intelligent people and the affection of children, to earn the appreciation of honest critics and endure the betrayal of false friends, to appreciate beauty, to find the best in others, to leave the world a bit better, whether by a healthy child, a garden patch, or a redeemed social condition; to know even one life has breathed easier because you have lived.  This is to have succeeded!” (Sukses adalah : tertawa sering dan banyak, memenangkan rasa hormat dari orang-orang cerdas dan rasa kasih sayang kepada anak-anak, mendapatkan apresiasi dari kritikan yang jujur dan bertahan terhadap pengkhianatan teman-teman palsu, menghargai keindahan, menemukan yang terbaik dalam diri orang lain, meninggalkan dunia sedikit lebih baik, baik itu adalah dengan anak yang sehat, sepetak kebun, atau kontribusi terhadap kondisi sosial; mengetahui bahwa walaupun itu satu orang menghembuskan nafas lebih lega karena Anda hidup. Inilah kesuksesan)


Wilfred Peterson: “Success is focusing the full power of all you are on what you have a burning desire to achieve.” (Sukses adalah memfokuskan dengan kekuatan penuh semua yang kita miliki, sebuah keinginan yang membara untuk meraih pencapaian)
Suksesitubebas.com: “Sukses adalah melakukan apa yang kita cintai dan mencintai apa yang kita lakukan. Dimana kita dikelilingi orang-orang yang kita cintai dan kita dihargai sesuai penghargaan yang kita inginkan.”
Sukses adalah saya dan Anda, kita semua.
xxx

            Lahir ke dunia ini adalah sebuah kesuksesan. Bayi-bayi mungil nan lemah membutuhkan perjuangan demi keluar dari rahim ibu. Tentu saat itu kita belum menyadarinya. Dari orang tua kita bisa menanyakan betapa sulitnya menghadirkan diri kita. Maka bersyukur telah hiup adalah kewajiban.
            Walaupun sedikit yang diingat, kita pastilah pernah tertatih-tatih belajar berjalan dengan dua kaki kita. Tak peduli berapa kali terjatuh, sakit lalu bangun dan melanjutkan usaha hingga mahir berjalan seperti sekarang ini.
            Kita telah melewati masa-masa menguji coba seluruh bagian tubuh kita. Menghubungkan dunia luar yang besar kepada diri kita lewat sentuhan, penciuman, perabaan, penglihatan dan pendengaran. Betapa indahnya dunia ini bila kita memiliki kelengkapan seharusnya.
            Kita pun mengenal ada kehidupan lain di luar diri kita. Kita termasuk dalam kehidupan mereka. Kita hidup bersama dengan perbedaan yang jelas tak harus diributkan.
            Kesempatan hidup adalah hal yang sangat berharga.
xxx
Masa Sekolah Dasar
Banyak hal istimewa tanpa disadari akan memori saat bersekolah di tingkatan dasar wajib belajar sembilan tahun ini. Begitu yakin, kurun itulah tonggak kunci penentu kehidupan berikutnya. Setidaknya ahli pendidikan masa kini menyebutnya masa emas, usia 0 hingga 8 tahun (usia anak SD masuk ke dalamnya). Pendidikan berpengaruh besar pada siswa yakni pondasi awal kehidupannya, perkembangan neuron otak paling pesat dibanding tahapan kehidupan lain.
Kala itu, pertama dalam hidup memiliki teman berseragam sama warnanya seperti bendera bangsa. Kesibukan serupa dalam ruangan tembok tinggi warna sendu dan jendela-jendela sempit. Debu-debu kerap mengganggu indera penciuman. Suara bising penanda aktivitas maupun hasil pembelajaran dengan seorang dewasa, guru.
Tiada yang benar-benar sama di sana. Kita semua sedang berego tinggi untuk mengukuhkan kehebatan dalam tubuh kecil senantiasa bertumbuh. Diawali dengan terbata-bata mengenali kode-kode bernama huruf, lantas menjadi kata, kalimat. Dan rangkaian huruf sejatinya memiliki arti potensial, meskipun tanpa malu menguasai membacanya saja di tingkat 4. Bukan masalah sebenarnys. Lebih penting menapaki secara utuh ketimbang berjalan dalam kerapuhan setiap saat bisa kehilangan maupun rusak.
Kemudian tentang nama, terbuat dari rangkaian huruf tersimpan rangkaian doa. Selalu ada cerita dari sejumlah yang diterakan pada mereka, teman sepanjang enam tahun. Lika-liku hematnya, terpaksa menyimpulkan pemahaman sepintas si pembawa nama beserta tingkah mereka tatkala tak lagi bersama.
Mereka, teman satu kelas SD, seolah menjadi duplikat siapa orang tuanya. Tentang bagaimana tabiat peniruannya, dan suara-suara mencoba menerjemahkan hasil pemikiran sendiri akan nama-nama yang lekat karena kehebatannya, atau dianggap lalu lantaran ke-biasa saja-annya.
Di tingkat 6, namaku mulai menyamai ketenaran juara kelas bertahan. Mungkin keberuntungan sedang menyapa lewat pemindahan posisi duduk di depan. Menjadi deretan siswa yang mendapat porsi menyimak lebih besar. Sudah seharusnya memang. Bahkan sejak awal, idealnya mendapatkan hak begini karena, inilah kebutuhan perorangan yang tak bisa diindahkan jika memang ada yang mau mengerti.
Untuk memahami mengapa siswa kurang berprestasi? Serta merta mengecapnya lambat berpikir?! Tetapi tak ada yang bertanya dulu, apakah bisa melihat? Apakah bisa mendengar? Pembelajaran mengandalkan tulisan di papan tulis dan ceramah sementara gaduh riuh si tukang heboh merugikan mereka yang pendengaran dan penglihatannya lemah. Ada berapa orang wali kelas sampai begitu detailnya ingin mencari tahu kondisi muridnya sendiri secara lengkap? Sepele.
Lagi, ketika ada kegiatan lomba hasta karya. Dua kandidat sudah dikenal jago menggambar. Dipastikan mereka berdua mendapat tugas tersebut, dan benar kenyataannya. Berdua mereka sibuk menggoreskan suatu bentuk berwujud dua dimensi beraneka warna di atas kertas putih. Sementara aku hanya bisa mengamatinya di satu sudut kelas, sesekali mencoba mengusik mencoba membantu atau hanya sekedar mengomentari dengan kata sederhana. Yang sebenarnya mengharap sang wali kelas bersimpati mau mencoba kemampuanku juga layak seperti mereka. Sayangnya, tidak begitu. Beliau tak pernah mau melihatku lebih, meskipun berkali-kali,  berlembar-lembar gambar kubuat, namun tak sampai dinikmatinya. Aku tak diberi kesempatan sekali itu. Menghibur diri sendiri, ya sudahlah, hitung-hitung enggan mendepak keberuntungan teman sendiri. Suatu hal yang beliau akan sadari setelah 12 tahun.
Terkadang, terpaksa mengalah cukup menyudutkan pandangan kita yang selama ini berkembang saling berpaut.
xxx

Ganti sekolah, ganti seragam, ganti teman, dan ganti cerita kehidupan, itulah alur menuju remaja.
SMP, pertama rasanya mengenal suka dengan kakak kelas di kantin sekolah. Diam tersipu, tak mampu mengungkapkan kata. Mungkin terlalu malu, bisa juga menganggap belum pantas. Segala daya upaya dikerahkan agar lebih dekat mengenalnya. Apa daya, keberuntungan satu-satunya harapan. Pada akhirnya tak satu pun kata terucap manis untuknya. Tak menyesal.
Sementara masih syok akibat kegagalan masuk sekolah favorit dimana saudara berada, seolah-olah dari situ menjadi momok untuk terus mencemooh. Suara-suara celaan dan tindakan dominasi demi menobatkan kebenaran menjauhiku. Mulai merasakan guncangan tidak kasatmata dalam tubuhku, terutama jantungku. Gemuruh tanpa nama.
Nihil tempat bertanya, apalagi sekedar berbagi cerita. Telinga-telinga yang seharusnya mendengar justru tertutup rapat, sibuk menyalahkan dan memerintah melampaui kekuasaannya. Semua atas dasar perintah!
Kemana mencari tempat berlindung? Bagaimana akan bertahan? Selamanya kan mencari jawab.
Selingan tentu ada. Menemukan teman-teman seperjuangan adalah obat penawar. Mereka yang berperangai baik meski tidak terkenal, bersahaja dalam kesederhanaan. Rela menempati golongan belakang, sudah cukup menciptakan indah kebersamaan mengarungi biru-putih.
Lalu siapa yang terkenal?
Syaratnya cantik dan mampu menarik perhatian orang. Dengan begitu ada keuntungan tersendiri bila cocok dengan sosok penting seperti halnya memperbaiki nilai rapor, atau tumpangan promosi gratis sampai rumah, sementara yang lain berjalan kaki atau naik sepeda. Menurutku konyol mengikuti cara itu, meskipun tetap saja menginginkan.
Ingat, bagaimana hendak berhasil apabila berat badan cenderung naik? Mi instan nampaknya jadi menu baru disamping camilan klimis lebih menenangkan kegundahan. Menangkal serangan verbal destruktif, entah rupaku mirip penampung sampah!
Pembentukan konsep diri berjalan adanya, lengang. Kepercayaan menghilang pelan. Hal yang harus dibayar mahal oleh pembiasaan terus-menerus remeh temeh arti kata dari mulut manusia.
Katakanlah yang baik, atau diam. Siapa yang lupa? Kebanyakan mengabaikannya. Lebih mudah menghujat kejelekan orang lain dibanding diri sendiri, bukan? Perkataan negatif, jangankan makhluk hidup. Air saja akan berubah sifatnya setelah dikatai secara intens. Lalu dengan makhluk hidup, manusia? Biar bagaimanapun namanya bullying.
Mungkin maksudnya bukan begitu. Kekurangan pengetahuan atau keliru memahami. Apapun namanya, lebih penting mempertahankan warisan melegitimasi partiarkisme. Karena Tuhan tidak berada di ‘arsy, akan tetapi bertahta dalam benak dan perkataannya, membenarkan semua keputusannya. perintahnya tidak pernah salah, dan jika terjadi kesalahan maka kembali ke pasal sebelumnya. Itulah aturannya.
Anggap saja sedang tidak beruntung. Terlahir ke dunia ini adalah sebuah anugerah. Sebaliknya yaitu bencana bila tak sesuai ekspetasi. Siapa menginginkan, siapa menolak.
Sebentuk pemahaman mulai menjurus seiring langkah menapaki waktu yang terus bergulir. Jalan tanpa pagar menuntun arah mana. Pelindung-pelindung menghilang melegakan terpaan terjal. Menanti seperti apa ujungnya. Perumpamaan sulit. Hidup tidaklah untuk mengiaskan peristiwa dengan sebaris kesimpulan. Tapi mendiskusikan peristiwa lalu juga pertanda orang sukses jika mau mengambil hikmahnya.
Tidak ada prestasi di sini. Kalau mau dikata, sekali pernah membuat bingung guru Mapel Mulok menemukan inisialku sebagai penggambar rangkaian janur terbaik melebihi predikat penggambar biasanya. Beliau tidak berhasil bahkan setelah memeriksa buku catatan seisi kelas. Dan aku enggan mengaku. Dalam hati justru merasa puas menyimpan ini untuk suatu masa nanti.
Menanti hari-hari pengumuman penting sungguh mendebarkan. Keputusan untuk menjelaskan seperti apakah diriku selama tiga tahun dalam angka dan tulisan. Yang jelas aku sudah berusaha mengerahkan kemampuanku mendapatkan hasil terbaik. Semuanya kupasrahkan saja kepada Tuhan.
Meski tidak memuaskan, tidak pula mengecewakan, lulus adalah kesimpulannya sehingga aku bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Berarti juga berpisah dari dia yang pertama membuatku jatuh cinta.
Kadang merasa takdir kurang adil. Dia yang berprestai dan berlaku baik tapi miskin. Menjadi anak angkat Bapak penjaga sekolah mungkin hadiah terbesarnya. Mau tak mau mengikuti jalan orang tuanya di sana. Belajar menjadi orang sesungguhnya di usia dini. Waktu seakan terlalu gegabah menyimpulkan masa depannya.
xxx

Tak terasa, warna seragam berubah menjadi abu-abu putih. Beberapa orang tua mengatakan, inilah masa-masa sangat indah. Berharap ini adalah pintu baru menuju perubahan baik. Mengatasi pertanyaan lalu yang belum selesai.
Diterima di SMA biasa, bukan unggulan, bukan pula yang terjelek. Setidaknya masih mampu berbangga diri pernah belajar di sana karena siapa tahu almamaternya suatu saat terdongkrak.
Bertambah teman baru, bercampur kawan lama dari sebelumnya melalui proses panjang. Ada pula yang hilang. Sebuah transisi. Perubahan wajar yang seharusnya terjadi.
Kupikir sama saja keadaannya, pembelajaran seperti seharusnya. Tak pernah menjumpai guru besar yang menghebatkan muridnya. Atau aku saja yang terlalu menuntut?
Belum sirna perasaan minder lantaran tungganganku hanya sebuah onthel, dan kebanyakan mereka lebih maju dengan motornya sehingga bisa berkelana lebih jauh atau sekedar pamer belaka. Sejujurnya tidak di situ akarnya.
Menggabungkan diri dalam ekstrakurikuler remaja rohis kuharapkan meredam keguncangan dalam hati ini. Kedamaian yang dijanjikan tak mungkin berdiri sendiri. Bergulat dengan romantika remaja menuju dewasa. Apa saja bisa terjadi, dan belum tentu benar.
Seorang senior kelas yang dikenal mumpuni kepiawaian serta ratingnya pun dengan mudahnya menggunakan taktik keruh untuk membenarkan tujuan idealisme. Pencapaian yang harusnya dieksplisitkan lagi sesuai kondisi, tidak mentah-mentah mengunduhnya.
Bukan hal baru mendapati realita mencengangkan. Dirinya juga manusia, bisa salah dan keliru. Namun gerak-geriknya mencerminkan identitas sesungguhnya. Inilah misteri manusia.
---
Hal pahit ketika anak baru yang menjadi teman sebangku mengalami kecelakaan terserempet kereta saat berangkat sekolah memboncengkan teman. Itu adalah hari ke empat pelaksanaan ujian tengah semester 2 di kelas 2. Suasana pagi berubah muram mengiringi seantero kelas.
Kuharap hanya sementara dia terbaring kritis di sana. Setelah dua minggu rupanya Tuhan lebih memilih mengambilnya dari kebersamaan kami ke kehidupan abadi. Kehilangan sungguh menyakitkan. Tapi ada yang membuatku sangat marah. Mulut-mulut penggosip yang entah dari mana mendapatkan kabarnya, mengekspresikan tertawa terbahak membawa isu kematiannya. Seolah mortalitas orang lain sebagai hiburan diantara kehidupan susah.
Hari terus berlanjut. Rangkingku turun teratur dari sepuluh besar. Terlalu banyak beban kutahan sendiri. Berlagak baik-baik saja di hadapan orang. Ingin sekali menemukan seseorang yang mau mendengarkan keluh-kesahku secara bijak.
Guru Wali Kelas 3 berkarakter ke-bapak-an, sosoknya kerap menyentilku akan kerinduan pada seorang ayah. Mungkin beliaulah sang pengganti, meski cuma di sekolah. Tak bisa berharap banyak sebab beliau sudah repot dengan urusannya sendiri. Tak kesampaian mengusahakannya sebagai pembimbing.
Dan ternyata putrinya juga bersekolah sama denganku, adik kelasku. Sering bertemu di kegiatan rohis. Aku pun mengaguminya. Tapi jika yang kudengar adalah ceritanya berakrab ria dengan ayahnya, aku harus menguatkan diri menahan air mataku. Aku iri dengan kehangatan mereka. Lebih baik menjauh saja.
Mungkin hanya ketidakberuntungan belaka. Jalan hidup tiap orang berbeda. Aku pun selalu menerima apa yang diberikan saat ini, kuartikan sebagai yang terbaik.
xxx

Di bangku kuliah, kita siap mengepakkan sayap menjadi manusia dewasa. Dari sini kita menentukan arah bagaimana baiknya menjadi manusia sebenarnya. Manusia yang bermanfaat bagi orang lain, itulah hakikatnya.
Diterima di PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) sebenarnya apa hebatnya? Lebih menantang bila yang kujalani adalah Jurusan Teknik Mesin atau Arsitektur. Julukan yang namanya saja sukah membuat rasa bangga. Lantas apaistimewanya menjadi calon guru?
Konon katanya guru adalah pahlawan. Mereka bekerja mulia tanpa penghargaan. Tapi untuk jaman sekarang ini apa bisa?
Dunia terus berubah. Definisi, konsep, hukum juga bisa berubah. Jaman tidak akan kembali melainkan berputar menyerupai seberkas yang lalu.
Kuncinya adalah berubah!

KUNCI DAN SUKSES


Tentu saja pemahamanku akan berubah jika saja siapa yang memaksaku kuliah di sini mengertikan keadaanku, dan memberikan dukungannya mengatasi keterbatasanku yang sangat menghambat.
Kekurangan penglihatan dan pendengaran sangat menyita kualitas kegiatan perkuliahan. Jika saja tidak kukembangkan daya spontanitas menggambarkan ilmu yang seharusnya ada.
Tapi aku masih diam saja. Menunggu hingga mereka menyadari kesalahannya semakin fatal dan mau sedikit bersusah turut membangun impian bersama.
---


Pada akhirnya, diri kitalah yang harusnya pertama berubah. Tuhan tidak akan menolong suatu kaum sehingga kaum tersebut menolongnya sendiri. Memang logis. Bagaimana Tuhan akan mengabulkan permintaah hamba-Nya jika tidak memantaskan diri menerimanya?
Selanjutnya adalah bagaimana caranya untuk memantaskan diri mendapat anugerah besar, yakni jalan sukses yang tiap orang cita-citakan.
Apapun keadannya, berubah adalah jalan keluar. Pertama dari diri sendiri memperbarui mindset. Bahwa kesuksesan bukanlah tujuan, melainkan jalan. Sukses adalah hak setiap orang. Sukses bukanlah hal yang bisa diwariskan, karena sukses harus didapatkan dengan perjuangan keras dan doa. Bahwa untuk sukses kita tidak sendiri.
Kedua adalah mulai melakukan tindakan dengan sukses. Sekalinya tak ada tindakan besar tanpa tindakan kecil. Maka orang bijak macam Tung Desem Waringin mengatakan sukses adalah rangkaian tindakan kecil yang dijalani dengan cara terbaik.
Ketiga adalah berdoa, memohon dan memasrakhan pada Yang Kuasa memberkahi segala upaya yang kita lakukan semoga sesuai fitrah-Nya.
Namun hal kecil yang sering terlupa adalah bahwa sukses juga terbentuk dari usaha kita membantu orang lain. Meringankan penderitaan orang lain adalah perwujudan saling mencintai, mengasihi, berguna sesuai harapan bangsa.
Wassalam.

Yogyakarta, 27 Desember 2013



















Senin, 21 Mei 2012

The Lost Girl, I Don't Have Friends

Ini benar-benar sebuah autobiografi.
Kutuliskan dengan segenap kesadaran, bahwa hidup manusia hanya sekali. Alangkah baiknya meninggalkan jejak berarti dan dapat dijadikan pelajaran bagi yang lain.

Sungguh bahagia bisa berbagi cerita bersama kalian.
Begitu aku merasa tak sendiri, karena kekuatan cinta kita saling menguatkan meski berjauhan dan tak nampak.